File 17_agustusan_dan_jagung_dan_buku_tulis.md

Drama di Puncak Tongkol

Di Kompleks Griya Tentram Sejahtera Damai Selamanya, perayaan 17 Agustusan bukanlah sekadar ajang balap karung atau lomba makan kerupuk. Acara-acara itu dianggap sebagai pemanasan rendahan bagi kaum plebeian. Puncak dari segala kemeriahan, acara yang menentukan hierarki sosial kompleks untuk satu tahun ke depan, adalah "Lomba Estetika Tongkol Jagung Rebus Tingkat RT". Ini adalah kontes di mana para peserta tidak hanya membawa jagung, tetapi juga membawa harapan, gengsi, dan interpretasi filosofis atas sebuah hasil bumi.

Sang Maestro dan Buku Tulis Keramat

Jantung dari kompetisi ini adalah dewan juri tunggalnya: Gondo Sularso. Seorang pensiunan guru seni rupa yang kini mendedikasikan sisa hidupnya untuk mengejar kesempurnaan estetika pada jagung rebus. Pak Gondo tidak pernah menilai berdasarkan kriteria biasa seperti "manis" atau "kuning cerah". Senjatanya adalah sebuah artefak legendaris: buku tulis merek Sinar Dunia bersampul cokelat yang sudah lecek, di bagian depannya tertulis spidol permanen: "Kanon Agung Penilaian Jagung - Edisi Revisi ke-17".

Buku tulis itulah yang menjadi sumber segala kecemasan dan spekulasi di kompleks. Tak ada yang tahu persis isinya, tetapi rumor beredar bahwa di dalamnya terdapat kriteria-kriteria absurd seperti "tingkat keikhlasan warna kuning", "potensi melankolia saat digigit", dan "harmoni sonik ketika tongkol diketuk dengan jari manis tangan kiri".

Tahun ini, Budi Purnomo merasa inilah saatnya. Setelah setahun penuh melakukan riset agronomi partikelir di pekarangan belakang rumahnya, ia berhasil menumbuhkan sebuah mahakarya. Jagung yang ia beri nama "Cahaya Pagi Nusantara" itu memiliki biji-biji yang tersusun sempurna laksana prajurit baris-berbaris, dengan gradasi warna dari kuning pucat ke emas pekat yang menurutnya melambangkan perjalanan bangsa. Ia merebusnya dengan air dari tujuh sumber mata air yang berbeda (sebenarnya tiga dari sumur, dua dari PDAM, satu dari galon, dan satu lagi dari tadahan air AC, tapi "tujuh sumber" terdengar lebih mistis).

Dengan dada membusung dan "Cahaya Pagi Nusantara" terbaring anggun di atas nampan berlapis daun pisang, Budi melangkah ke meja penjurian. Di sana, Pak Gondo sudah menunggunya, kacamata melorot di ujung hidung, menatap Budi dengan tatapan seorang kritikus teater yang siap menghancurkan karier aktor muda.

Penjurian yang Melampaui Nalar

"Nama jagungnya?" tanya Pak Gondo dengan suara datar yang mengandung beban kebijaksanaan ribuan tongkol.

"Cahaya Pagi Nusantara, Pak," jawab Budi, mencoba terdengar mantap.

Pak Gondo tidak menyentuh jagung itu. Ia hanya mengitarinya tiga kali berlawanan arah jarum jam, sesekali bergumam. Kemudian, ia membuka buku tulis keramatnya. Dengan teliti, ia membolak-balik halaman yang tipis dan rapuh itu.

"Hmm," desahnya. "Halaman 12, butir 3a: 'Aura Optimisme yang Tidak Naif'. Coba saya periksa."

Pak Gondo mendekatkan wajahnya ke jagung itu, bukan untuk menciumnya, tapi seolah-olah sedang mendengarkan bisikan rahasia dari biji-bijinya. Matanya terpejam. Seluruh penonton menahan napas. Lomba balap bakiak di lapangan sebelah mendadak terasa begitu dangkal dan tidak berarti.

"Optimismenya... ada," ujar Pak Gondo setelah hening yang terasa abadi. "Tapi terlalu... riang. Hampir seperti poster kampanye partai politik. Kurang ada kedalaman penderitaan yang tersirat. Kurang nuansa 'kita memang cerah, tapi ingat tagihan cicilan KPR'."

Jantung Budi serasa jatuh ke lambung. Ia tidak memperhitungkan variabel cicilan KPR dalam proses perebusan jagungnya.

Pak Gondo beralih ke halaman lain di buku tulisnya. "Halaman 28, butir 7: 'Potensi Nostalgia Aroma'. Mari kita uji."

Ia akhirnya mengambil jagung itu, namun tidak menciumnya. Ia malah mengibaskannya perlahan di depan hidungnya, seperti seorang sommelier menguji buket anggur.

"Aromanya... aroma jagung rebus. Standar," katanya dengan nada kecewa. "Tidak ada jejak kenangan masa kecil di pematang sawah. Tidak ada bisikan tentang layang-layang yang putus. Ini hanya... jagung. Sebuah komoditas, bukan sebuah puisi."

Budi sudah pasrah. Mahakaryanya, "Cahaya Pagi Nusantara", kini terasa seperti sebongkah jagung rebus biasa yang bisa dibeli di Puncak seharga sepuluh ribu dapat tiga.

Wahyu dari Halaman Terakhir

Pak Gondo meletakkan jagung itu kembali ke nampan dengan gestur pelan, seolah sedang menolak sebuah naskah novel yang buruk. Ia tampak hendak menutup buku tulisnya saat matanya terpaku pada satu halaman terakhir.

"Tunggu sebentar," gumamnya. "Ada catatan kaki yang baru saya tambahkan semalam setelah menonton sinetron 'Azab Penjual Sayur Curang'."

Ia membaca catatan kecil yang ditulis dengan pulpen merah itu dengan saksama. Wajahnya perlahan berubah dari kekecewaan menjadi pencerahan.

"Budi Purnomo!" serunya dengan nada yang dramatis. "Saya salah!"

Budi terperanjat. Penonton berbisik-bisik.

"Lihat ini!" Pak Gondo menunjuk sebuah biji jagung di baris ketiga dari atas. Biji itu sedikit penyok dan warnanya agak lebih pucat dari yang lain. "Awalnya saya kira ini adalah cacat. Sebuah kegagalan dalam kesempurnaan."

Ia kembali menatap buku tulisnya. "Tapi menurut adendum terbaru saya di halaman 45, 'Teori Ketidaksempurnaan yang Indah', cacat minor seperti ini justru melambangkan... kerendahan hati! Sebuah pengakuan bahwa di tengah tatanan yang sempurna, selalu ada ruang untuk kerapuhan manusiawi! Biji ini tidak berteriak 'aku sempurna', ia berbisik 'aku sudah berusaha'."

Pak Gondo mengangkat jagung itu tinggi-tinggi. "Warna kuningnya yang terlalu riang itu bukanlah kenaifan, melainkan sebuah topeng untuk menutupi satu biji yang rapuh ini! Ini bukan sekadar jagung, ini adalah alegori masyarakat kita! Ini adalah... mahakarya!"

Sorak-sorai membahana. Budi Purnomo terdiam, bingung antara harus gembira atau harus mempertanyakan kewarasan seluruh kompleks perumahan ini. Ia memenangkan Lomba Estetika Tongkol Jagung Rebus bukan karena kesempurnaan jagungnya, tapi karena satu biji yang penyok.

Sebagai hadiah, ia mendapatkan piala berbentuk tongkol jagung emas, sertifikat yang dilaminating, dan tentu saja, sebuah buku tulis Sinar Dunia baru. Pak Gondo menepuk pundaknya dan berbisik, "Pakailah buku ini dengan bijak, anak muda. Dunia penjurian jagung membutuhkan penerus sepertimu."

Budi hanya bisa mengangguk, sambil menatap "Cahaya Pagi Nusantara" yang kini berada di puncak piramida sosial kompleksnya. Ia jadi berpikir, mungkin tahun depan ia akan mencoba ikut lomba dengan membawa singkong yang bentuknya sengaja ia buat agar terlihat cemas.


Illustration: "A dramatic close-up shot of a single corn cob resting on a velvet cushion. One kernel on the corn is slightly dented and paler than the others. A single teardrop is rolling down this specific kernel. In the background, blurred but visible, an old man wearing glasses and a judge's sash is looking at a cheap school notebook with an expression of profound intellectual discovery."