Sebuah Tragedi Kosmik di Dalam Akuarium Kaca
Profesor Alistair Pringgondani, seorang filolog yang bakatnya hanya bisa ditandingi oleh tingkat keanehannya, meyakini bahwa kunci untuk memahami alam semesta tidak terletak pada teleskop atau akselerator partikel, melainkan pada gerakan acak seekor ikan mas. Dengan keyakinan ini, ia menciptakan sebuah bahasa buatan yang rumit, dengan harapan bisa menerjemahkan ocehan tanpa suara dari teman bersisiknya, Blorok, menjadi sebuah kearifan universal. Namun, kearifan yang ia temukan sama sekali tidak seperti yang ia bayangkan.
Sang Filolog dan Teman Bersisiknya
Profesor Alistair Pringgondani tinggal di sebuah rumah di pinggiran kota fiktif bernama Kramat Jati Pustaka, sebuah nama yang ia berikan sendiri pada kompleks perumahannya karena menurutnya terdengar "lebih berwibawa secara akademis". Rumahnya lebih mirip perpustakaan yang meledak daripada tempat tinggal. Buku-buku bertumpuk hingga menyentuh langit-langit, peta-peta kuno menutupi retakan di dinding, dan di tengah semua kekacauan intelektual itu, hiduplah Blorok.
Blorok bukan ikan mas biasa. Setidaknya, tidak di mata Profesor Alistair. Baginya, Blorok adalah generator keacakan murni, sebuah orakel hidup yang berkomunikasi melalui tarian akuatik yang tak terduga. Selama sepuluh tahun terakhir, Alistair telah mendedikasikan hidupnya untuk menciptakan "Logika Murni," sebuah bahasa buatan yang bertujuan untuk menghilangkan semua ambiguitas, metafora, dan ketidaktepatan emosional dari komunikasi manusia. Masalahnya, tidak ada manusia yang mau mempelajarinya. Mereka menganggapnya "terlalu kaku" dan "membuat kepala pusing saat memesan nasi goreng".
Kecewa dengan keterbatasan sesama spesiesnya, Alistair beralih ke Blorok. Ia memasang sebuah kamera berkecepatan tinggi di atas akuarium Blorok, yang permukaannya telah ia gambar dengan grid koordinat super presisi. Setiap gerakan—setiap belokan tajam, setiap jeda mengambang, setiap kibasan ekor yang anggun—direkam, dianalisis, dan diubah menjadi sebuah fonem atau morfem dalam Logika Murni. Gerakan ke kanan atas berarti "subjek". Mengambang diam selama 0.7 detik adalah kata kerja "menjadi". Sementara berenang terbalik (yang hanya terjadi saat Blorok hampir mati karena terlalu banyak makan) adalah partikel penegas untuk sebuah tragedi skala besar.
Tata Bahasa Berbasis Gerakan Insang
Sistem yang dibangun Profesor Alistair luar biasa rumit. Konjugasi kata kerja ditentukan oleh kecepatan denyut insang Blorok. Deklinasi kata benda bergantung pada sudut kemiringan tubuhnya relatif terhadap filter air. Ada 17 bentuk kalimat lampau yang berbeda, masing-masing dibedakan oleh pola gelembung udara yang dikeluarkan Blorok setelah makan pelet.
"Lihat! Lihat!" seru Alistair pada suatu sore kepada tukang pos yang kebetulan lewat, sambil menunjuk ke monitor yang menampilkan serangkaian simbol aneh. "Blorok baru saja menghasilkan kalimat kondisional masa depan yang sempurna secara gramatikal! 'Jika pelet diberikan dalam kuantitas yang memuaskan, maka kepuasan akan tercapai secara probabilistik'. Jenius! Benar-benar jenius!"
Tukang pos itu hanya tersenyum canggung, menyerahkan tagihan listrik, dan buru-buru pergi sebelum ia diminta untuk ikut menerjemahkan gerakan usus halus ikan tersebut.
Selama berbulan-bulan, "terjemahan" dari gerakan Blorok kebanyakan hanyalah omong kosong puitis. "Air adalah basah," "gravitasi itu nyata tapi membosankan," "dinding kaca membatasi namun memberi kepastian." Alistair mencatat semuanya dengan cermat, yakin bahwa ia berada di ambang sebuah penemuan besar. Ia merasa seperti seorang arkeolog yang sedang menyusun kembali pecahan-pecahan vas kuno, tidak menyadari bahwa yang sedang ia susun sebenarnya adalah memoar dari bencana terdahsyat dalam sejarah planet ini.
Terjemahan yang Tidak Diharapkan
Momen itu tiba pada suatu hari Selasa yang mendung. Blorok tampak sangat gelisah. Ia berenang dengan pola zig-zag yang panik, membenturkan dirinya pelan ke dinding kaca, dan sesekali berhenti total seolah membeku karena teror. Di monitor Profesor Alistair, teks mulai mengalir dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Awalnya, kalimat-kalimat itu tampak tak beraturan, mencerminkan kepanikan Blorok. "Langit salah. Langit bukan biru. Langit panas."
Alistair mengernyit. "Mungkin dia sedang mengomentari suhu pemanas air," gumamnya, sambil menyesuaikan termostat.
Tapi teks itu terus berlanjut, membentuk sebuah narasi yang koheren dan mengerikan.
"Bintang baru muncul di siang hari. Terang. Marah. Aku lapar, tapi semua teman kecil berbulu sudah lari bersembunyi. Tanah bergetar. Bukan getaran karena Kaki Besar lain datang. Getaran ini... dari dalam."
Jantung Alistair mulai berdebar kencang, bukan karena makna kalimatnya, tapi karena kompleksitas sintaksisnya. Blorok menggunakan bentuk kalimat pasif yang sangat langka, yang hanya bisa dipicu oleh gerakan melingkar berlawanan arah jarum jam sambil mempertahankan posisi horizontal sempurna.
Narasi itu berlanjut, melukiskan gambaran yang semakin jelas. "Gunung di kejauhan batuk api. Udara menjadi abu. Bintang marah itu semakin besar. Semakin dekat. Aku meraung, tapi tidak ada yang menjawab. Hanya ada deru angin dan suara tanah yang retak. Aku adalah pemburu terhebat. Aku adalah raja. Tapi di hadapan bintang yang jatuh ini, aku hanyalah daging yang menunggu untuk terbakar."
Kalimat terakhir muncul setelah Blorok melakukan gerakan paling dramatis dalam hidupnya: ia melompat keluar dari air sejenak, lalu jatuh kembali dengan percikan besar. Di Logika Murni, itu adalah titik. Sebuah penutup yang final.
Epilog Seekor Ikan Mas
Profesor Alistair Pringgondani menatap layar dengan mulut sedikit terbuka. Di hadapannya, tersaji sebuah laporan saksi mata yang puitis dan mengerikan dari detik-detik terakhir kepunahan dinosaurus, dari sudut pandang seekor Tyrannosaurus Rex. Semua terekam melalui gerakan panik seekor ikan mas di Kramat Jati Pustaka, 66 juta tahun kemudian.
Ia terdiam selama beberapa menit, memproses implikasi dari apa yang baru saja ia baca. Sejarah planet. Kehidupan dan kematian. Tragedi kosmik.
Lalu, ia menoleh ke arah Blorok, yang sekarang dengan tenang mengunyah sisa pelet di dasar akuarium. Profesor Alistair menghela napas panjang, dipenuhi rasa frustrasi yang mendalam.
"Luar biasa," gumamnya sambil memijat pelipisnya. "Aku menghabiskan satu dekade mengembangkan bahasa yang sempurna secara logis, dan output pertamaku yang signifikan hanyalah sebuah laporan cuaca apokaliptik dari Zaman Kapur."
Ia merobek hasil cetakan itu dari printer dengan kesal. "Sama sekali tidak menjawab pertanyaan fundamental tentang sifat kesadaran atau asal-usul angka prima. Sungguh pemborosan data. Sangat tidak efisien."
Dengan dongkol, Profesor Alistair mulai menyusun ulang algoritmanya, memutuskan bahwa lain kali ia akan mencoba menganalisis pola pertumbuhan jamur pada roti tawar. Mungkin, pikirnya, jamur punya perspektif filosofis yang lebih relevan.
Illustration: "A hyper-detailed scene of an eccentric old professor in a cluttered study, staring furiously at a complex computer screen. The screen shows a stream of bizarre symbols and a translated text that reads '...THE SKY IS FALLING! I'M HUNGRY!'. Next to the computer is a simple goldfish in a bowl, its aquarium covered in a complex grid of measurement lines. The goldfish is serenely blowing a bubble."