Simfoni Sisik Emas dan Nada Sumbang
Agam Subiyakto adalah seorang pria yang hidup dengan satu keyakinan teguh: ikan mas adalah filsuf yang disalahpahami. Untuk membuktikan hipotesis radikalnya ini, ia mendedikasikan tujuh tahun terakhir hidupnya untuk menciptakan bahasa buatan pertama di dunia yang dirancang khusus untuk komunikasi akuatik, sebuah proyek yang ia jalankan dengan instrumen yang paling tidak terduga: sebuah klarinet tua warisan kakeknya. Kini, sebuah kompetisi bergengsi akan menjadi panggung pembuktiannya, atau justru panggung kehancurannya.
Proyek Ambisius di Akuarium Ruang Tamu
Bagi kebanyakan penghuni Kompleks Griya Damai Sentosa, rumah nomor 17 yang dihuni Agam Subiyakto adalah misteri. Dari luar, rumah itu tampak biasa saja, dengan taman yang terawat rapi dan pot-pot bunga aglaonema yang berjejer monoton. Namun di dalam, ruang tamunya telah diubah menjadi sebuah laboratorium linguistik-akuatik yang sangat spesifik. Pusat dari semua ini adalah sebuah akuarium berukuran masif, rumah bagi "Kolektif Kencana," sebutan Agam untuk dua belas ikan mas peliharaannya.
Pemimpin de facto dari kolektif ini adalah seekor ikan mas oranda dengan jambul oranye yang luar biasa besar, yang diberi nama Budi. Menurut Agam, Budi bukanlah sekadar ikan. Budi adalah seorang pemikir mendalam, seorang skeptis alami, dan kritikus seni yang ulung. "Lihat caranya menggerakkan siripnya saat aku memutar rekaman musik klasik?" kata Agam pada pot kaktusnya suatu sore. "Itu bukan gerakan acak. Itu adalah kritik pedas terhadap penggunaan vibrato yang berlebihan oleh sang pemain biola."
Untuk bisa berkomunikasi dengan para pemikir bersisik ini, Agam menciptakan "Glarglonian," sebuah bahasa tonal yang kompleks. Aturan gramatikalnya sangat rumit. Kata kerja, misalnya, tidak memiliki kala (tense) berdasarkan waktu, melainkan berdasarkan suhu air. Sebuah kalimat yang diucapkan saat air bersuhu 24°C memiliki arti yang sama sekali berbeda jika diucapkan pada suhu 26°C. Kata sifat diwakili oleh panjang pendeknya sebuah nada, sementara kata benda ditentukan oleh kombinasi getaran dan keheningan. Dan alat untuk "berbicara" bahasa Glarglonian? Klarinet Eb miliknya.
Bahasa yang Lahir dari Desibel dan Gelembung
Proses komunikasi ini, menurut buku catatan Agam yang tebalnya sudah menyaingi kamus, berjalan dua arah. Agam akan memainkan serangkaian nada melodius yang rumit pada klarinetnya, yang merupakan sebuah kalimat dalam bahasa Glarglonian. Misalnya, sebuah rangkaian nada stakato cepat di oktaf tinggi bisa berarti, "Wahai Kolektif Kencana yang bijaksana, bagaimana pandangan Anda mengenai dualisme partikel-gelombang?"
Respons dari Kolektif Kencana, khususnya Budi, akan dianalisis dengan cermat. Sebuah gelembung tunggal yang naik perlahan berarti "pertanyaan menarik, kami butuh waktu untuk merenung." Serangkaian gelembung kecil yang cepat berarti "konsep yang dangkal dan tidak layak didiskusikan oleh para pemikir sekaliber kami." Gerakan berenang ke dasar akuarium dan mengaduk kerikil adalah penolakan filosofis yang paling keras.
Selama bertahun-tahun, Agam mengklaim telah melakukan percakapan mendalam dengan Budi dan kawan-kawannya mengenai segala hal, mulai dari estetika seni minimalis hingga paradoks kapal Theseus. Tentu saja, semua ini terjadi di dalam kepala Agam. Bagi orang luar, yang terlihat hanyalah seorang pria paruh baya meniupkan nada-nada aneh ke sebuah kotak kaca berisi ikan.
Ada satu masalah teknis yang terus mengganggu Agam. Klarinetnya memiliki satu kelemahan: nada C# rendah. Karena katup yang sedikit aus, nada itu sering kali menghasilkan suara sumbang yang melengking jika tidak ditekan dengan presisi sempurna. Celakanya, dalam leksikon Glarglonian, nada C# rendah yang dimainkan secara tidak sempurna adalah umpatan paling kasar yang bisa dibayangkan, setara dengan menghina nenek moyang alga lawan bicara. Budi, sebagai ikan yang beradab, sangat membenci nada itu.
Kompetisi Besar dan Rivalitas Sunyi
Kesempatan emas bagi Agam datang dalam bentuk pamflet yang ia temukan terselip di wiper mobilnya: "Lomba Komunikasi Interspesies Nusantara ke-3." Ini adalah ajang tahunan bagi para individu eksentrik untuk memamerkan metode mereka berbicara dengan hewan. Pemenang tahun lalu adalah seorang pria dari Sukabumi yang mengklaim bisa membahas politik anggaran dengan koloni semut rangrang menggunakan serangkaian kedipan mata.
Agam tahu, inilah panggungnya. Ia mendaftar dan segera memulai latihan intensif dengan Kolektif Kencana. Tema yang akan ia bawakan adalah "Sebuah Dialog Puitis Mengenai Fana dan Keabadian." Ia menyusun sebuah komposisi klarinet yang megah, penuh dengan frasa-frasa Glarglonian yang puitis dan pertanyaan-pertanyaan filosofis yang menusuk kalbu.
Latihannya tidak berjalan mulus. Budi tampak lebih sering mengeluarkan gelembung "konsep dangkal" daripada biasanya. Agam mengartikannya sebagai kritik konstruktif. "Ah, kau benar, Budi," gumamnya sambil mencoret beberapa baris not balok. "Transisi dari ‘kehampaan kosmik’ ke ‘keindahan sesaat embun pagi’ memang terlalu tiba-tiba. Kurang elegan."
Saingan terberatnya, menurut rumor, adalah Puan Surtikanti, seorang pensiunan guru tari yang berkomunikasi dengan kawanan burung merpati di atap rumahnya melalui gerakan tari kontemporer yang ia sebut "Merpatiswara." Agam mendengus. "Tidak ada kedalaman intelektual dalam kepakan sayap. Itu hanya aerodinamika dasar," katanya pada Budi, yang merespons dengan menguap (atau setidaknya, membuka mulut lebar-lebar yang Agam tafsirkan sebagai menguap bosan).
Hari Penentuan dan Klarinet yang Berkhianat
Hari kompetisi tiba. Panggung kecil didirikan di sebuah aula serbaguna yang berbau campuran desinfektan dan ambisi aneh. Penontonnya sedikit, namun antusias. Puan Surtikanti tampil memukau, melakukan serangkaian gerakan plié dan jeté yang dramatis, yang dibalas oleh kawanan merpati dengan terbang membentuk formasi yang (secara kebetulan) tampak seperti tanda tanya. Para juri, yang terdiri dari seorang ahli biologi, seorang seniman performans, dan kepala dinas pariwisata setempat, tampak terkesan.
Lalu, giliran Agam. Ia melangkah ke panggung dengan percaya diri, meletakkan akuarium portabel berisi Kolektif Kencana di atas sebuah meja. Ia membungkuk pada para juri, lalu pada akuariumnya. "Selamat sore, para pemikir," sapanya dalam bahasa Glarglonian yang merdu.
Ia mulai memainkan komposisinya. Nada-nada mengalun, menceritakan kisah tentang bintang yang mati dan spora jamur yang abadi. Budi dan kawan-kawan berenang dengan tenang, sesekali mengeluarkan gelembung tunggal yang Agam anggap sebagai anggukan persetujuan. Para juri tampak bingung, namun terpesona oleh keseriusan Agam.
Kemudian, tibalah bagian klimaks. Sebuah bagian yang membutuhkan transisi cepat ke nada-nada rendah untuk melambangkan "perenungan mendalam." Dalam kegugupannya, jari Agam sedikit tergelincir saat menekan katup untuk nada C#.
SKREEEKK!
Suara sumbang yang mengerikan keluar dari klarinetnya. Itu bukan nada perenungan. Itu adalah hinaan terkeras dalam bahasa Glarglonian.
Pemberontakan Gelembung dan Kemenangan yang Salah Kaprah
Reaksi Kolektif Kencana terjadi seketika. Budi, yang tadinya tenang, matanya melotot. Jambulnya bergetar karena amarah. Ia memimpin seluruh kolektif dalam sebuah pemberontakan akuatik. Mereka berenang dengan kecepatan kilat, menabrak dinding kaca, mengaduk-aduk kerikil hingga air menjadi keruh, dan yang paling dramatis, mereka semua naik ke permukaan dan menyemburkan air serta gelembung secara serempak. Akuarium itu tampak seperti mesin cuci yang rusak.
Di atas panggung, Agam membeku ngeri. Ia telah gagal total. Ia baru saja menghina sahabat-sahabat intelektualnya di depan umum. Ia menatap Budi, yang balas menatapnya dengan tatapan yang seolah berkata, "Kau dan seluruh pohon keluargamu yang berbasis darat tidak akan pernah kami maafkan."
Namun, para juri dan penonton melihat hal yang berbeda. Mereka melihat seorang musisi yang berhasil memprovokasi reaksi yang luar biasa dramatis dari subjeknya. Itu bukan kegagalan komunikasi; itu adalah puncak dari seni interspesies! Air yang keruh, gelembung yang meledak-ledak, gerakan ikan yang panik—semua itu ditafsirkan sebagai finale yang kuat dan emosional.
"Luar biasa!" seru juri seniman performans sambil berdiri. "Sebuah representasi visual dari konflik batin! Brilian!"
Penonton bertepuk tangan meriah. Agam Subiyakto, dengan wajah pucat pasi karena malu dan penyesalan, diumumkan sebagai pemenang Lomba Komunikasi Interspesies Nusantara ke-3. Saat ia menerima trofi berbentuk lumba-lumba emas, ia bisa merasakan dua belas pasang mata mungil menatapnya dengan penuh kebencian dari dalam akuariumnya. Ia telah memenangkan segalanya, namun kehilangan respek dari satu-satunya audiens yang benar-benar berarti baginya.
Illustration: "A highly detailed, humorous scene. A man in a formal suit (Agam Subiyakto) is playing a clarinet with a look of pure horror on his face. In front of him is a large, pristine aquarium. Inside the aquarium, a dozen goldfish are in a chaotic frenzy, creating a massive storm of bubbles and splashing water everywhere. One particularly large goldfish with a prominent orange head-growth (Budi) is staring directly at the man with what appears to be intense fury. Confetti is raining down on the scene, and in the background, judges are applauding enthusiastically."