Riwayat Sebuah Letupan Kecil
Profesor Alfeus Pangebona memiliki sebuah teori yang, menurut rekan-rekannya di Universitas Purbakala Merdeka, lebih sulit dicerna daripada fosil Stegosaurus yang salah masak. Beliau percaya bahwa kepunahan massal dinosaurus bukanlah disebabkan oleh sebongkah batu angkasa berkecepatan tinggi, melainkan oleh sebuah kegagalan komunikasi kolosal. Di tengah skeptisisme universal, sang profesor, dibantu asistennya yang setia sekaligus lelah jiwa raga, Dodo, memulai misi paling ambisius dalam sejarah Paleo-Linguistik: membuktikan bahwa para kadal raksasa punah karena mereka kehilangan kemampuan untuk... mengobrol.
Teori yang Lebih Sulit Ditelan daripada Fosil T-Rex
"Intinya sederhana, Dodo," ujar Profesor Alfeus sambil mengetuk-ngetuk papan tulis yang dipenuhi diagram rumit menghubungkan gambar Velociraptor ke sketsa tongkol jagung. "Kau tidak bisa mengorganisir sebuah peradaban—bahkan peradaban kadal sekalipun—tanpa bahasa yang fungsional. Asteroid itu? Itu hanya kebetulan yang sangat tidak menguntungkan. Ibaratnya, kau sedang bertengkar hebat dengan pasanganmu karena salah paham soal jadwal mencuci piring, lalu atap rumahmu tiba-tiba runtuh. Masalah utamanya bukan atapnya, Dodo, tapi piring kotor itu!"
Dodo menghela napas, napas yang sarat akan aroma kopi basi dan mimpi yang terkubur. "Jadi, Profesor, Anda mengatakan T-Rex dan kawan-kawannya punah karena mereka tidak bisa lagi sepakat siapa yang giliran berburu?"
"Tepat sekali! Tapi lebih dalam dari itu," mata Profesor Alfeus berbinar-binar. "Mereka memiliki bahasa buatan yang sangat canggih. Sebuah bahasa aglutinatif yang logikanya tidak berbasis pada suara vokal atau gestur, melainkan pada struktur molekuler dan susunan biji dari spesies jagung purba, Zea Dinosauri."
Beliau menyebut bahasa purba itu ‘Bahasa Kornespian’. Menurut teorinya, setiap aspek tata bahasa Kornespian—mulai dari kata benda, kata kerja, hingga kalimat pasif yang sangat puitis untuk mendeskripsikan kekecewaan—diwakili oleh pola unik biji jagung pada tongkolnya. Mereka tidak 'berbicara' dalam artian umum; mereka 'menyajikan' tongkol jagung dengan susunan tertentu untuk berkomunikasi. Sebuah rapat dewan Tyrannosaurus, bayangkan Dodo, pasti tampak seperti festival panen raya.
"Lalu, mengapa mereka punah?" tanya Dodo, meskipun ia sudah tahu jawabannya akan membuatnya ingin mengambil cuti panjang ke planet lain.
"Karena jagungnya punah!" seru Profesor Alfeus, menggebrak meja hingga debu fosil berhamburan. "Penyakit tanaman, perubahan iklim minor sebelum asteroid datang, apa pun itu! Tanaman jagung kunci mereka bermutasi. Susunan bijinya menjadi acak. Bayangkan, Dodo! Kau ingin berkata 'Awas ada meteor!', tapi yang keluar dari tongkol jagungmu malah 'Resep bolu kukus pandan'. Kekacauan total! Anarki linguistik! Kepunahan yang tak terhindarkan."
Artefak Suci: Tongkol Jagung Prasejarah
Selama bertahun-tahun, teori Profesor Alfeus hanya menjadi bahan tertawaan di kantin fakultas. Mereka menyebutnya "Profesor Berondong". Namun, semua berubah pada suatu sore yang lembap di situs penggalian Lembah Fosil. Saat para koleganya sibuk membersihkan tulang paha Brontosaurus seukuran mobil sedan, Dodo, yang ditugaskan menggali di area yang dianggap tidak produktif, merasakan cangkulnya membentur sesuatu yang aneh. Bukan tulang, bukan batu.
Benda itu adalah fosil tongkol jagung yang terawetkan dengan sempurna dalam damar purba. Biji-bijinya masih utuh, tersusun dalam pola spiral yang aneh dan tidak wajar untuk jagung modern.
Profesor Alfeus datang berlari dengan kecepatan yang mengkhawatirkan untuk pria seusianya. Air mata menggenang di matanya. Ia memegang fosil itu seolah-olah itu adalah bayi yang baru lahir. "Ini dia, Dodo," bisiknya dengan suara bergetar. "Batu Rosetta kita. Kamus Kornespian-Indonesia."
Selama berminggu-minggu, laboratorium Profesor Alfeus berubah menjadi kuil pemujaan jagung. Beliau memetakan setiap biji, mengukur sudutnya, menganalisis komposisi mineralnya dengan peralatan yang ia modifikasi dari pemanggang roti dan mikroskop tua. Dodo, di sisi lain, bertugas memastikan pasokan kopi tetap ada dan sesekali mengingatkan sang profesor untuk mandi.
"Aku menemukannya!" teriak Alfeus pada suatu malam, membuat Dodo yang sedang tertidur di atas tumpukan jurnal menjatuhkan gelas kopinya. "Logikanya salah! Aku salah selama ini!"
"Jadi teorinya keliru?" tanya Dodo penuh harap. "Kita bisa berhenti dan saya bisa mencari pekerjaan di bidang akuntansi?"
"Tidak, tidak! Teorinya benar, tapi mediumnya yang keliru!" kata Alfeus. "Bahasa ini tidak dibaca secara visual, Dodo. Itu terlalu primitif! Bahasa ini... didengar!"
Dekripsi, Deduksi, dan Delusi Tingkat Tinggi
Profesor Alfeus menyeret Dodo ke sudut lab, menunjuk sebuah mesin pembuat berondong jagung antik yang sudah ia rombak total. Kini mesin itu dilengkapi dengan serangkaian mikrofon sensitif, osiloskop, dan kabel-kabel yang terhubung ke sebuah komputer kuno.
"Dinosaurus tidak saling menunjukkan tongkol jagung, Dodo. Itu tidak efisien kalau tanganmu kecil seperti tangan T-Rex. Mereka MEMANASKANNYA!" jelasnya. "Setiap biji jagung dari Zea Dinosauri, karena struktur internalnya yang unik, menghasilkan suara letupan yang berbeda. Frekuensi, amplitudo, dan durasi letupan itulah yang membentuk kata-kata! Bahasa Kornespian adalah bahasa sonik-letupan!"
Dodo menatap mesin itu, lalu menatap profesornya. "Jadi... semua ini... tentang berondong jagung?"
"Ini bukan sekadar berondong jagung, anak muda!" sahut Profesor Alfeus dengan nada terhina. "Ini adalah fonetik prasejarah! Ini adalah simfoni kepunahan!"
Dengan tangan gemetar karena antisipasi, Profesor Alfeus mengambil beberapa biji jagung fosil yang paling terawat. Ia telah mengidentifikasi satu set biji yang menurut hipotesisnya membentuk sebuah kalimat lengkap—sebuah pertanyaan, berdasarkan pola spiralnya yang menanjak. Ia memasukkannya ke dalam "Reaktor Fonetik Kornespian" miliknya.
Simposium Spekulasi dan Suara dari Masa Lampau
Kesempatan pembuktian datang pada Simposium Tahunan Spekulasi Ilmiah, sebuah ajang di mana teori-teori paling liar berkumpul. Di hadapan audiens yang terdiri dari ahli kriptozoologi, pendukung teori Bumi datar, dan seorang pria yang mengklaim bisa berbicara dengan jamur, Profesor Alfeus menyiapkan presentasi puncaknya.
Ia menyalakan mesinnya. Ruangan hening. Mesin berderit dan memanas. Dodo berdiri di sampingnya, memegang alat pemadam api untuk berjaga-jaga.
Lalu, suara itu terdengar. Bukan "POP!" tunggal yang biasa. Melainkan serangkaian letupan cepat, berdurasi mikrodetik, dengan nada yang naik turun secara kompleks. Tik-pok-brrr-twang-POP!
Layar komputer menampilkan analisis gelombang suara yang rumit. Profesor Alfeus menatapnya, wajahnya pucat pasi, lalu perlahan berubah menjadi ekspresi pencerahan total.
"Luar biasa," bisiknya.
Seorang penonton dari barisan depan bertanya, "Apa artinya, Profesor? Apa pesan terakhir dari para dinosaurus?"
Profesor Alfeus berdeham, menyesuaikan kacamatanya, dan menatap audiens dengan tatapan penuh kemenangan. Ia mengumumkan terjemahannya dengan suara yang mantap dan jelas.
"Kalimat itu," katanya, "berarti: 'Permisi, apakah ini mengandung gluten?'"
Ruangan hening sejenak, lalu meledak dalam kebingungan. Teori kepunahan Profesor Alfeus mungkin tidak sepenuhnya salah. Bisa jadi, dinosaurus memang punah karena masalah sepele yang ditiupkan menjadi terlalu besar. Sementara itu, Dodo hanya bisa memijat keningnya, membayangkan betapa sederhananya hidup sebagai seorang akuntan.
Illustration: "An eccentric, wild-haired professor in a lab coat, with a look of pure ecstasy on his face, stands before a bizarre, retro-futuristic popcorn machine made of copper pipes and glowing vacuum tubes. His timid assistant stands beside him, looking horrified. From the machine, a single piece of fossilized popcorn is suspended mid-air, emitting complex soundwave patterns. In the background, a blackboard is covered in nonsensical diagrams connecting T-Rex skulls to corn cobs."