Kisah Kecepatan, Kafein, dan Kunyahan Rumput
Jamaludin Purnomo, seorang pria yang puncak kegembiraannya adalah menemukan diskon ganda pada kertas HVS ukuran A4, tidak pernah berencana untuk menjadi seorang pembalap. Namun, takdir memiliki selera humor yang aneh. Sebuah peraturan baru yang absurd dalam ajang balap paling bergengsi di Kecamatan Antah Berantah, "Kejuaraan Meja Dorong Bertenaga Jet," memaksanya keluar dari zona nyamannya yang dipenuhi aroma kopi basi dan suara printer dot matrix. Kini, ia harus membangun sebuah kendaraan balap dari tiga komponen yang tidak seharusnya berada dalam satu kalimat yang sama: mesin jet, sapi, dan meja kantornya.
Bab I: Regulasi yang Mungkin Ditulis Sambil Mabuk Kopi Luwak
Komite "Kejuaraan Meja Dorong Bertenaga Jet" tahun ini, dalam upaya meningkatkan "kearifan lokal dan stabilitas aerodinamis organik," mengumumkan sebuah amandemen peraturan yang membuat semua insinyur garuk-garuk kepala dan semua peternak mengangkat alis. Peraturan 3B ayat 4C menyatakan: "Setiap kendaraan wajib ditenagai oleh satu (1) mesin jet tipe apa pun, menggunakan sasis berupa satu (1) meja kantor standar (minimal tiga laci), dan harus dilengkapi dengan satu (1) Unit Stabilisator Bio-organik (USB-O) dari genus Bos taurus dalam kondisi hidup dan sehat."
Bagi orang awam, itu berarti kau harus menempelkan mesin jet ke meja kerjamu dan entah bagaimana meyakinkan seekor sapi untuk ikut serta.
Jamaludin Purnomo, kepala departemen audit internal di PT. Kertas Jaya Sentosa, hanya tahu soal ini karena memo dari HRD salah alamat. Memo yang seharusnya berisi jadwal outbound malah berisi formulir pendaftaran lomba. Karena misinterpretasi dan keyakinan buta bahwa ini adalah bagian dari program team building wajib perusahaan, Jamaludin mendaftar. Ia baru menyadari kesalahannya dua minggu kemudian, ketika sebuah mesin jet bekas pesawat latih diantar ke lobi kantornya dengan label "Untuk Sdr. Jamaludin - Proyek Team Building."
"Ini pasti ada salahnya," gumam Jamaludin pada resepsionis, sambil menatap nosel raksasa mesin yang terparkir di sebelah pot palem. "Bonus tahunan kita tidak sebesar ini."
Bab II: Perakitan yang Mempertanyakan Kewarasan
Proses perakitan adalah sebuah mahakarya kekacauan. Jamaludin, seorang pria yang keahlian teknisnya terbatas pada mengganti tinta printer, harus menggabungkan puncak teknologi aviasi dengan puncak furnitur korporat. Ia menghabiskan akhir pekan pertamanya bukan untuk mengelas, tetapi untuk membaca manual garansi meja kantornya, khawatir kalau-kalau mengebor lubang untuk baut mesin jet akan membatalkan garansi anti-rayapnya.
Mesin jet itu, yang ia dapat dari lelang barang sitaan dinas perhubungan udara, mengeluarkan suara batuk-batuk saat dinyalakan, seperti raksasa yang tersedak debu. Jamaludin dengan cermat menempelkan stiker "ASET PERUSAHAAN - JGN DISENTUH" di badannya, sebuah kebiasaan kantor yang sulit dihilangkan.
Komponen ketiga adalah yang paling menantang: sapi. Setelah proses negosiasi yang alot dengan Pak Carik, yang melibatkan barter tiga rim kertas F4 dan sebuah janji untuk tidak mengaudit dana desa, Jamaludin mendapatkan hak sewa atas Melati, seekor sapi peranakan ongole yang terkenal paling kalem se-kecamatan. Melati tidak tampak terkesan dengan prospek menjadi komponen aerodinamis.
Untuk mengakomodasi Melati, Jamaludin mengorbankan lemari arsipnya, mengubahnya menjadi semacam sidecar yang dilas secara amatir ke salah satu kaki meja. Ia melapisi interiornya dengan jerami dan memasang tempat minum otomatis yang terhubung ke dispenser air galon kantor.
"Lihat, Melati," kata Jamaludin sambil menepuk-nepuk lemari arsip itu. "Anggap saja ini cubicle berjalan. Ada fasilitas minum. Nanti saya pasang kipas angin kecil kalau sempat."
Melati hanya menjawab dengan mengunyah rumput, tatapannya kosong, sama sekali tidak peduli pada konsep daya dorong dan G-force.
Bab III: Hari Perlombaan dan Manuver Tak Terduga
Sirkuit dadakan di Lapangan Kelereng Raksasa sudah ramai. Di garis start, berjejer kreasi-kreasi gila lainnya. Ada meja direktur mahoni dengan mesin kembar, ada meja resepsionis berbentuk L yang aerodinamis, dan ada pula meja dari Baron von Schaffenberg, rival abadi semua orang, yang mejanya terbuat dari serat karbon dan tampak seperti hasil persilangan antara jet tempur siluman dari film Star Battles dan set furnitur minimalis Swedia.
Meja kantor Jamaludin, yang ia beri nama "Ksatria Kertas HVS," tampak menyedihkan di sebelahnya. Meja kayunya yang berwarna krem pudar, dengan bekas tumpahan kopi di sudutnya, kontras dengan mesin jet yang berminyak dan Melati yang dengan santai buang air kecil di sidecar lemari arsipnya.
"Sistem stabilisatormu bocor," cibir Baron von Schaffenberg dari kokpitnya yang mewah.
Jamaludin hanya bisa menghela napas dan memeriksa kembali apakah semua lacinya sudah terkunci. Ia tidak mau pulpen dan staplernya berhamburan di kecepatan 200 km/jam.
Bendera start diayunkan. Deru mesin jet memecah udara. Meja Baron melesat seperti peluru. Meja Jamaludin, sebaliknya, bergetar hebat, terbatuk-batuk, lalu meluncur maju dengan kecepatan sepeda santai.
"Ayo, ayo!" teriak Jamaludin, memutar-mutar setir yang ia buat dari keyboard bekas.
Masalahnya adalah distribusi berat. Mesin jet mendorong dari belakang, sementara Melati yang beratnya setengah ton memberikan torsi yang tidak seimbang di sisi kanan. Akibatnya, "Ksatria Kertas HVS" cenderung berbelok ke kanan. Jamaludin harus berjuang keras hanya untuk berjalan lurus.
Di tikungan pertama, keajaiban terjadi. Saat Baron dengan angkuh menyalip dari sisi kiri, suara knalpotnya yang memekakkan telinga mengejutkan Melati. Sapi itu, yang tadinya mengantuk, tiba-tiba menggeser berat badannya ke kiri. Gerakan mendadak itu, secara fisika murni, melawan tendensi meja untuk berbelok ke kanan. Hasilnya adalah sebuah manuver menikung yang sempurna dan tidak disengaja. "Ksatria Kertas HVS" meluncur mulus melewati tikungan, menyalip dua peserta lain yang terkejut.
Jamaludin terbelalak. "Melati! Kamu... kamu navigator alami!"
Melati hanya melenguh, tidak sadar ia baru saja menemukan prinsip thrust vectoring organik.
Bab IV: Kemenangan Berkat Obsesi Birokratis
Perlombaan berlangsung sengit. Jamaludin dan Melati, melalui serangkaian manuver sapi yang tidak terduga, berhasil mempertahankan posisi kedua di belakang Baron. Di lintasan lurus terakhir, Baron, yang mulai frustrasi karena tidak bisa melepaskan diri dari kejaran meja butut, memutuskan untuk bermain kotor. Ia menekan tombol yang melepaskan semburan oli ke lintasan.
"Ksatria Kertas HVS" mulai tergelincir. Jamaludin panik. Inilah saatnya. Saat di mana pahlawan harus menunjukkan keberaniannya. Tapi Jamaludin bukan pahlawan; ia seorang auditor.
Dalam kepanikannya, otaknya tidak memikirkan manuver heroik. Ia justru teringat pada obsesi terbesarnya: pelabelan yang benar. Ia melihat panel kontrol canggih milik Baron yang penuh dengan layar sentuh dan tombol berkedip. Saat mejanya meluncur tak terkendali mendekati meja Baron, sebuah ide gila terlintas di benaknya.
Dengan gerakan yang dipenuhi adrenalin, ia meraih benda paling berharga di lacinya: alat pembuat label portabelnya. Dengan kecepatan kilat, ia mengetik satu kata, mencetaknya, dan saat kedua meja itu bersisian untuk sesaat, ia menempelkan label itu tepat di atas layar utama sistem navigasi Baron.
Baron von Schaffenberg melirik ke bawah dan membaca label yang baru saja muncul di konsolnya: SISTEM ERROR - HUBUNGI IT SUPPORT.
Sebagai seorang yang sangat bergantung pada teknologi, otak Baron langsung membeku. Sistemnya error? Layar menampilkan data kecepatan dan telemetri yang sempurna, tapi label itu... label itu mengatakan error. Pasti sistemnya berbohong. Dalam sepersekian detik keraguan itu, instingnya mengambil alih. Ia melakukan apa yang akan dilakukan oleh pengguna teknologi mana pun saat melihat pesan error: ia mematikan dan menyalakan kembali sistemnya.
Kesalahan fatal. Mesin jetnya mati. Meja serat karbonnya kehilangan daya dorong dan meluncur tak berdaya ke pinggir lintasan.
Jamaludin Purnomo, dengan mejanya yang masih sedikit oleng, melintasi garis finis di posisi pertama. Penonton bersorak, bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
Jamaludin mematikan mesinnya, yang kembali batuk-batuk sebelum senyap. Ia menepuk leher Melati. "Kerja bagus, tim. Sekarang, di mana saya harus mengisi formulir klaim kemenangan?"
Illustration: "An absurd scene of an office desk with a massive, sputtering jet engine strapped to its back, rocketing across a finish line. An unassuming man in a slightly rumpled office shirt and tie is steering with a computer keyboard. A calm, large white cow sits placidly in a sidecar made from a grey filing cabinet, chewing cud with a flower behind its ear. The man is victoriously holding up a small, mundane handheld label maker. In the background, a sleeker, futuristic black desk-vehicle is smoking, having spun out."