Diagnosis Wajan dan Resep Nada Minor
Di sebuah gang sempit yang lebih terkenal karena aroma bawang gorengnya ketimbang prestasi warganya, hiduplah seorang pria bernama Sobirin. Ia bukan dokter, bukan pula musisi, melainkan sesuatu di antaranya. Papan nama kecil di depan rumahnya bertuliskan: "Sobirin - Terapis Frekuensi Sonik dan Gastronomi Kuantum (Konsultasi Sore Hari, Tutup Jika Hujan Deras)". Profesinya yang unik ini menarik klien-klien dengan masalah yang sama uniknya, yang tidak akan pernah ditemukan dalam jurnal medis manapun. Suatu hari, ia kedatangan seorang klien dengan keluhan yang akan menguji batas keahliannya yang sudah aneh itu.
Bab Satu: Keluhan yang Tidak Terdaftar di BPJS
Bu Wati, seorang guru les piano yang pembawaannya selalu dramatis, duduk dengan gelisah di ruang praktik Sobirin. Ruangan itu sendiri adalah sebuah anomali: satu sisi dipenuhi rak buku berisi ensiklopedia tebal berdebu, sementara sisi lainnya menyerupai dapur minimalis dengan sebuah penggorengan tunggal yang tergantung di dinding seperti relik suci. Di pojok ruangan, sebuah klarinet terbaring anggun di atas bantal beledu.
"Jadi, bisa Ibu jelaskan lagi gejalanya?" tanya Sobirin sambil menyeduh teh melati dengan konsentrasi seorang ahli kimia yang sedang menetralkan bom.
Bu Wati menghela napas panjang, seolah sedang mengumpulkan seluruh penderitaan dunia. "Ini sulit dijelaskan, Pak Sobirin. Saya... saya kehilangan kemampuan untuk mengapresiasi senja."
Sobirin berhenti mengaduk tehnya. "Kehilangan... apresiasi senja?"
"Betul!" seru Bu Wati. "Dulu, melihat langit jingga itu membuat hati saya bergetar, Pak. Saya bisa merasakan keagungan kosmos dan kefanaan hidup dalam satu tarikan napas. Sekarang? Saya lihat senja, yang terpikir cuma, 'Oh, gelap, waktunya nyalain lampu'. Rasanya hampa, Pak. Seperti jiwa saya lupa cara berlangganan paket data keindahan."
Sobirin mengangguk-angguk dengan wajah serius. Ini bukan kasus pertamanya yang berhubungan dengan fenomena puitis. Minggu lalu, ia berhasil menyembuhkan seorang akuntan yang tidak bisa lagi mendengar suara gemericik air tanpa merasa ingin segera mengauditnya.
"Saya mengerti," ujar Sobirin. "Ini gejala klasik. Jangan khawatir, Bu. Kita akan lakukan diagnostik."
Bab Dua: Sesi Diagnostik dengan Penggorengan Keramat
Sobirin bangkit dan dengan khidmat mengambil penggorengan dari dinding. Itu bukan penggorengan biasa. Itu adalah "Wajan Diagnostik Model K-77 'Cekung Kosmik'", warisan dari kakek buyutnya yang seorang filsuf sekaligus juru masak.
"Tolong fokuskan seluruh kegelisahan Ibu pada permukaan wajan ini," instruksi Sobirin, sambil meletakkannya di atas kompor portabel.
Ia menyalakan api kecil dan menuangkan sedikit minyak khusus yang ia sebut "minyak perenungan", yang beraroma seperti campuran minyak kelapa dan buku tua. Permukaan minyak yang tenang mulai memanas.
"Sekarang, tatap bayangan Ibu di dalam minyak," lanjutnya.
Bu Wati mencondongkan tubuhnya, menatap pantulan wajahnya yang bergetar di atas minyak panas. Awalnya tidak terjadi apa-apa. Namun perlahan, bayangannya memudar, dan di permukaan minyak itu muncul serangkaian huruf dan angka yang berpendar lembut: Vol. IX, Hal. 1.248.
Sobirin mematikan kompor dengan sigap. "Aha! Sudah kuduga. Referensinya jelas."
"Apa itu, Pak? Nomor togel?" tanya Bu Wati, setengah berharap.
"Bukan, Bu," jawab Sobirin dengan sabar. "Itu adalah koordinat penderitaan Ibu."
Bab Tiga: Jawaban dari Ensiklopedia Bervolume Ganjil
Sobirin beralih ke rak bukunya yang menjulang tinggi. Ia menarik sebuah buku bersampul kulit kusam dengan judul "Ensiklopedia Hal-Hal yang Hampir Terlupakan, Volume IX: Dari Apatisme Astrofisik hingga Zebra Bergaris Horizontal".
Dengan jemari yang cekatan, ia membuka halaman 1.248. Di sana, tertulis sebuah entri yang menjelaskan kondisi Bu Wati.
"Nah, ini dia," gumam Sobirin. "Ibu menderita 'Apatisme Astrofisik Akut' atau AAA."
"Penyakit apa itu, Pak? Apa menular?" tanya Bu Wati cemas.
"Tidak secara langsung," jelas Sobirin sambil membaca. "Menurut ensiklopedia ini, AAA adalah gangguan mikro pada frekuensi resonansi jiwa, biasanya disebabkan oleh paparan tak sengaja terhadap suara durian jatuh yang nadanya secara sempurna meniru kunci G mol, not yang sama dengan frekuensi kekecewaan planet Saturnus."
Bu Wati terbelalak. "Minggu lalu... saya memang kejatuhan durian di dekat saya waktu beli bubur ayam! Saya kira cuma kaget biasa!"
"Tentu saja," kata Sobirin, menutup buku itu dengan bunyi 'bluk' yang memuaskan. "Getaran sonik dari durian itu telah menggeser setelan apresiasi senja Ibu ke mode 'standby'. Diagnosis selesai. Sekarang bagian pengobatannya."
Bab Empat: Terapi Klarinet di Kunci C Campur Sari
Sobirin kini mengambil klarinetnya dari bantal beledu. Ia tidak membersihkannya dengan kain biasa, melainkan dengan selembar sutra yang katanya pernah dipakai untuk membungkus naskah resep rahasia.
"Solusinya sederhana," kata Sobirin. "Kita harus 'mengkalibrasi ulang' frekuensi jiwa Ibu. Saya akan memainkan Melodi Restoratif di kunci C mayor, dengan sedikit sentuhan nuansa campur sari untuk membumikan kembali energi kosmiknya."
Bu Wati tampak bingung tapi pasrah. Apa lagi yang bisa ia lakukan? Dokter biasa hanya akan memberinya vitamin.
Sobirin mengambil napas dalam-dalam, lalu mulai meniup klarinetnya. Alunan musik yang keluar sungguh aneh. Awalnya terdengar seperti melodi klasik yang megah, lalu tiba-tiba diselingi cengkok dangdut yang samar dan ritme kendang imajiner. Itu adalah perpaduan aneh antara Mozart dan Didi Kempot.
Saat melodi itu mengalun, Bu Wati merasakan sesuatu yang aneh. Alis kanannya mulai berkedut seirama dengan musik. Kakinya tanpa sadar mengetuk-ngetuk lantai. Ia tiba-tiba merasakan keinginan yang luar biasa untuk makan tahu gejrot dan secara mendalam mengapresiasi warna oranye pada taplak meja Sobirin.
Musik berhenti. Sobirin menyeka keringat di dahinya. "Bagaimana, Bu? Ada perubahan?"
Bu Wati mengerjapkan mata. Ia melihat ke luar jendela, di mana matahari mulai turun, mewarnai langit dengan sapuan jingga, ungu, dan merah muda. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Indah sekali..." bisiknya. "Saya bisa merasakannya lagi, Pak! Getaran keagungan itu! Oh, lihat awan itu, bentuknya seperti gerobak mi ayam yang diberkati surga!"
Bab Lima: Epilog Senja dan Aroma Bawang
Malam itu, Bu Wati duduk di teras rumahnya, memandangi sisa-sisa senja dengan secangkir teh di tangan, menangis haru. Aroma bawang goreng dari rumah tetangga tidak lagi terasa mengganggu, malah kini terasa sebagai pengiring simfoni visual di langit. Ia telah sembuh.
Sementara itu, di Gang Kelinci III, Sobirin sedang membersihkan wajan keramatnya sambil bersenandung kecil, memainkan kembali melodi restoratifnya. Ia tahu, di luar sana, masih banyak jiwa-jiwa yang frekuensinya tidak selaras, menunggu untuk didiagnosis oleh penggorengan, dijelaskan oleh ensiklopedia, dan disembuhkan oleh klarinetnya.
Illustration: "A quirky Indonesian man with a serious expression, wearing a batik shirt and a chef's hat, holds up a shimmering frying pan. Inside the pan, instead of food, glowing ethereal letters and numbers 'Vol. IX, Hal. 1.248' float above the oil. In the background, a woman with a confused expression watches him, surrounded by dusty encyclopedias and a single clarinet resting on a velvet pillow."