Tentang Sapi yang Batuknya Mahal Sekali
Pak Tejo adalah seorang pria yang hidupnya diatur oleh dua hal: jadwal sholat dan jadwal batuk sapinya. Bagi orang awam, ini terdengar seperti awal dari lelucon yang buruk. Namun, bagi warga Dusun SidoMakmur yang tahu sedikit—tapi tidak pernah tahu semuanya—itu adalah fakta sesederhana matahari terbit dari timur. Sapi milik Pak Tejo, seekor Limousin betina dengan bulu mata lentik yang diberi nama Monalisa, bukanlah sapi biasa. Ia adalah aset, keajaiban biologi, dan mesin pencetak kekayaan yang berjalan dengan empat kaki dan sesekali melenguh.
Monalisa dan Dietnya yang Tidak Lazim
Setiap pagi, setelah menyiram tanaman cabainya, Pak Tejo akan menyiapkan sarapan untuk Monalisa. Ini bukan sekadar rumput gajah atau konsentrat biasa. Menu Monalisa adalah sebuah simfoni kuliner yang diracik dengan presisi seorang ahli kimia. Ada dedak pilihan, pucuk daun singkong termuda, sejumput garam Himalaya (karena kata seorang influencer pertanian di Tiktuk, garam ini bisa meningkatkan mood ternak), dan bahan utamanya: satu mangkuk penuh biji jagung popcorn mentah yang belum mekar.
Tetangga sering bertanya, "Pak Tejo, kenapa sapinya dikasih jagung keras begitu? Nanti giginya ompong."
Pak Tejo hanya akan tersenyum misterius sambil mengelus dagu Monalisa. "Ini bukan sembarang jagung," jawabnya, "Ini... treatment spa untuk bagian dalamnya."
Tetangganya akan menggaruk kepala, menyimpulkan Pak Tejo sudah terlalu banyak menghirup uap dari rebusan jamu, lalu pergi. Mereka tidak tahu bahwa biji-biji jagung keras itu adalah komponen krusial dalam proses alkimia aneh yang terjadi di dalam perut Monalisa. Di dalam ransumnya, tersembunyi pula bubuk misterius yang terlihat seperti debu kelabu—Pak Tejo menyebutnya "suplemen mineral super." Pada kenyataannya, itu adalah debu berlian mentah berkualitas rendah yang ia beli dari seorang kenalan di Martapura dengan harga miring.
Monalisa, dengan sistem pencernaan empat lambungnya yang luar biasa, adalah satu-satunya makhluk di planet ini yang menderita kondisi langka yang ditemukan (dan dinamai) oleh Pak Tejo sendiri: Ruminasi Kristalogenik. Perutnya tidak hanya mencerna makanan, tetapi juga berfungsi sebagai dapur bertekanan tinggi. Debu berlian mentah yang masuk akan tergiling, tertekan, dan terpoles oleh biji-biji jagung popcorn yang keras dan padat itu. Prosesnya memakan waktu sekitar tujuh puluh dua jam, diakhiri dengan sebuah ritual yang ditunggu-tunggu.
Misteri Batuk Berdahak... Berkilau
Ritual itu selalu terjadi pada hari Selasa atau Jumat pagi. Monalisa akan berhenti mengunyah, matanya sedikit menerawang, dan tubuhnya bergetar pelan. Ia akan mengeluarkan suara seperti orang yang ingin berdeham, "Ehem... Mooooo-hmm!"
Ini adalah sinyalnya. Pak Tejo, yang selalu waspada, akan segera berlari mengambil sebuah ember kecil yang alasnya sudah dilapisi kain beludru merah. Dengan sigap, ia menempatkan ember itu di bawah mulut Monalisa.
Setelah beberapa kali berdeham, Monalisa akan mengeluarkan satu batuk yang kuat dan basah. PLOK!
Sebuah objek kecil, bening, dan berkilauan akan mendarat dengan lembut di atas beludru. Itu bukan dahak. Itu adalah berlian yang sudah terpoles sempurna, berkilau di bawah sinar matahari pagi. Ukurannya bervariasi, kadang seukuran biji jagung, kadang sebesar ujung kelingking. Pak Tejo akan mengambilnya dengan hati-hati, membersihkannya dengan kain mikrofiber, dan menyimpannya di dalam kotak kaleng bekas biskuit Khong Guan. Ia menyebutnya "panen."
"Anak pintar," bisik Pak Tejo sambil menggaruk-garuk leher Monalisa, yang kemudian kembali mengunyah rumput seolah tidak terjadi apa-apa. Baginya, batuk berlian adalah ketidaknyamanan minor, mirip seperti cegukan bagi manusia.
Konspirasi Popcorn dan Ancaman Krisis Produksi
Bisnis rahasia Pak Tejo berjalan mulus selama bertahun-tahun. Ia menjual hasil "panen"-nya secara diam-diam ke seorang pedagang perhiasan di kota besar yang mengira Pak Tejo adalah penambang tradisional yang sangat beruntung dan sangat eksentrik. Uang yang didapat digunakannya untuk merenovasi rumah, menyekolahkan cucunya hingga sarjana, dan yang terpenting, membeli pasokan popcorn mentah dan debu berlian.
Namun, suatu hari, bencana datang dalam bentuk pesan WhatsApp dari Pak Broto, satu-satunya pemasok biji popcorn varietas Zea mays everta rigida yang cocok untuk proses Monalisa.
"Pak Tejo, mohon maaf. Harga popcorn naik 500%. Katanya lagi ngetren dibuat camilan diet oleh artis-artis di Jakarta. Stok langka."
Dunia Pak Tejo seakan runtuh. Kenaikan 500% akan memakan seluruh keuntungannya. Tanpa popcorn keras itu, debu berlian di perut Monalisa hanya akan menjadi debu selamanya. Produksi akan macet. Monalisa hanya akan menjadi sapi mahal biasa yang sesekali tersedak debu.
Kegelisahan Pak Tejo tercium oleh Bu Ratmi, tetangga sebelah yang selalu ingin tahu dan memiliki tatapan setajam elang yang mengincar anak ayam.
"Kok murung, Pak Tejo?" tanyanya suatu sore sambil pura-pura menyapu halaman. "Monalisa sakit? Mungkin dietnya kurang cocok. Coba jangan dikasih yang aneh-aneh. Kasih saja rumput seperti sapi saya, si Kliwon. Sehat, gemuk, paling banter hasilnya cuma kotoran buat pupuk."
Pak Tejo tahu Bu Ratmi sedang memancing. Ia harus berpikir cepat. Sebuah ide cemerlang—secerlang hasil batuk Monalisa—muncul di benaknya.
Resolusi Cerdas di Pesta Jagung Bakar
Seminggu kemudian, Pak Tejo mengumumkan akan mengadakan syukuran kecil-kecilan. Ia mengundang seluruh tetangga untuk pesta jagung bakar gratis. Di tengah-tengah keramaian, ia membuat pengumuman besar.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu sekalian," katanya dengan nada prihatin. "Setelah saya pikir-pikir, saya akan mengubah pola makan Monalisa. Popcorn mentah itu ternyata tidak bagus. Kata dokter hewan online, bisa bikin sembelit. Mulai besok, Monalisa akan makan jagung bakar saja, sama seperti yang kita makan malam ini!"
Bu Ratmi, yang berdiri paling depan, menyipitkan matanya. Ia mencium ada yang tidak beres, tapi logika Pak Tejo terdengar masuk akal. Mungkin memang benar rahasianya hanya ada pada jagung.
Malam itu, semua orang pulang dengan perut kenyang dan gosip baru. Bu Ratmi bahkan membawa pulang lima jagung bakar, mungkin untuk dianalisis.
Yang tidak mereka ketahui adalah pengumuman Pak Tejo hanyalah pengalihan isu. Dua hari sebelumnya, ia melakukan perjalanan rahasia ke sebuah desa terpencil di lereng gunung, tempat ia menemukan varietas jagung liar yang bijinya bahkan lebih keras dari popcorn Pak Broto. Ia memborong tiga karung dengan harga sangat murah. Pasokan untuk satu tahun ke depan aman.
Keesokan paginya, saat Dusun SidoMakmur masih diselimuti kabut, Pak Tejo dengan tenang mencampurkan ransum baru untuk Monalisa. Sapi itu mengunyah dengan nikmat. Tak lama kemudian, terdengar suara dehaman yang familier.
PLOK!
Sebuah berlian, sedikit lebih besar dari biasanya, mendarat mulus di ember beludru. Pak Tejo tersenyum. Di dunia yang penuh ketidakpastian, satu hal yang pasti: selama ada Monalisa dan pasokan jagung yang tepat, masa depannya akan selalu berkilau.
Illustration: "A serene Javanese farmer wearing a traditional blangkon hat is calmly holding a small, red velvet-lined bucket. A beautiful, majestic cow is caught in a gentle coughing motion, and a single, perfectly cut, glittering diamond is frozen in mid-air, flying from the cow's mouth into the bucket. In the background, a simple wooden barn, and a sack labeled 'Jagung Super Keras' is leaning against the wall."