Sebuah Risalah Tentang Hening dan Gangguan Kecil
Baskoro Pangaribuan adalah seorang pria yang memandang keheningan bukan sebagai ketiadaan suara, melainkan sebagai sebuah substansi yang bisa dikoleksi, dimurnikan, dan dinikmati layaknya anggur paling mahal. Atas dasar filosofi inilah, ia memilih untuk mendirikan perpustakaan pribadinya di lokasi paling hening yang bisa ia bayangkan: dasar Palung Mariana. Huniannya, sebuah bola titanium yang diperkuat dengan lapisan keramik penyerap getaran dan interior kayu jati Jepara, adalah monumen bagi dedikasinya pada kesunyian. Di dalamnya, tidak ada internet, tidak ada telepon, hanya dirinya, ribuan buku, dan sebuah lampu baca bertenaga anglerfish yang ia jinakkan secara pribadi.
Pusat dari koleksinya, harta karun yang membuat tekanan 1.100 atmosfer di luar jendela terasa sepele, adalah Ensiklopedia Kelangkaan Universal. Ini bukan ensiklopedia biasa. Alih-alih berisi informasi umum, buku berjilid kulit leviathan ini mendokumentasikan segala hal yang hampir atau sudah punah sepenuhnya—mulai dari spesies lumut yang hanya tumbuh di satu kawah meteorit, hingga perasaan tulus seorang politisi saat kampanye. Bagi Baskoro, entri paling berharga dalam buku itu adalah "Keheningan Absolut", sebuah konsep yang menurut ensiklopedia itu sendiri sudah punah sejak Dentuman Besar. Tentu saja, Baskoro menganggap ini sebagai sebuah tantangan pribadi.
Kehidupan yang Dikalibrasi dengan Sempurna
Rutinitas harian Baskoro berjalan dengan presisi metronom. Pagi hari diisi dengan membaca bab acak dari ensiklopedianya. Siang hari ia habiskan untuk proyek alkimia pribadinya: menyuling "Intisari Keheningan Murni". Proses ini melibatkan serangkaian tabung reaksi yang terhubung dalam sistem distilasi fraksional yang sangat rumit. Bahan bakunya? Air dari ventilasi hidrotermal terdekat yang ia saring melalui serat daun teh Oolong paling langka yang tumbuh di biara gunung terpencil, yang para biksunya mengambil sumpah diam. Baskoro percaya, dengan tekanan dan suhu yang tepat, ia bisa mengisolasi molekul-molekul "hening" dari air dan teh tersebut.
Sejauh ini, setelah lima tahun bekerja, ia baru berhasil mengumpulkan sekitar tiga mililiter cairan bening kehijauan di dasar sebuah tabung reaksi yang paling dijaganya. Cairan itu tidak berbau, tidak berasa, dan secara teoretis, jika diteteskan ke telinga, bisa membuat seseorang tuli secara permanen terhadap suara bising yang tidak perlu, seperti opini orang lain di media sosial atau suara klakson di perempatan lampu merah.
Sore hari adalah waktunya untuk kontemplasi. Ia akan duduk di kursi berlengan kulitnya, menatap keluar jendela porthole setebal lengan orang dewasa, menyaksikan ikan-ikan aneh dengan wajah menyerupai akuntan yang kelelahan berenang lewat dalam keagungan yang sunyi. Baginya, inilah surga. Sebuah surga yang hening, bertekanan tinggi, dan bebas dari tetangga yang suka menyetel musik dangdut koplo di hari Minggu pagi.
Sebuah Disonansi Seukuran Biji Wijen
Semuanya sempurna, hingga pada suatu Selasa (ia melacak hari menggunakan kalender jamur bioluminesen), sesuatu yang tak terbayangkan terjadi. Saat ia sedang mengagumi entri tentang "Kesopanan di Antrean Supermarket", telinganya menangkap sebuah suara.
Ting.
Itu adalah suara yang sangat kecil, nyaris tak terdengar, setajam jarum dan sesingkat kedipan mata. Baskoro membeku. Ia menahan napas, menyaring setiap getaran di dalam kubahnya. Hening. Mungkin hanya imajinasinya. Ia kembali membaca.
Ting.
Kali ini lebih jelas. Suara itu ada. Nyata. Sebuah anomali di dalam katedral keheningannya. Dengan metodologi seorang detektif forensik, Baskoro mulai melakukan investigasi. Ia memeriksa lambung kubahnya, panel kontrolnya, bahkan anglerfish peliharaannya (yang hanya menatapnya balik dengan tatapan kosong bercahaya). Tidak ada sumber yang jelas. Suara itu datang dan pergi tanpa pola, sebuah penyiksaan akustik yang dirancang untuk merusak kewarasan seorang audiophile pertapa seperti dirinya.
Selama tiga hari, suara "ting" itu menghantuinya. Ia tidak bisa membaca. Ia tidak bisa melanjutkan penyulingan intisari heningnya. Ia bahkan mulai curiga pada teh Oolong-nya, barangkali ada biksu pemula yang tidak sengaja bersenandung saat memetik daunnya. Keputusasaan mulai merayapinya. Di tempat paling hening di Bumi, ia justru menemukan suara paling mengganggu di alam semesta.
Bab yang Terlupakan dan Makhluk Paling Menyebalkan di Semesta
Pada hari keempat, saat ia hampir menyerah dan mulai mempertimbangkan untuk pindah ke inti Matahari (yang secara teoretis cukup bising untuk menutupi suara "ting" kecil itu), ia sedang membolak-balik Ensiklopedia Kelangkaan Universal dengan putus asa. Saat itulah ia merasakan sesuatu yang aneh di antara halaman tentang "Kumbang Polkadot Transparan" dan "Optimisme Rasional". Ada sebuah halaman tambahan yang terlipat rapi, nyaris tak terlihat, sebuah suplemen yang mungkin tidak sengaja ia lewatkan selama ini.
Dengan jari gemetar, ia membuka lipatan itu. Di sana, dengan ilustrasi yang sangat detail, tergambar sesosok makhluk mikroskopis. Judul entri itu berbunyi: Kutu Resonansi Amigdala (Phonophilus irritatus).
Deskripsinya membuat darah Baskoro terasa dingin. Phonophilus irritatus, tulis ensiklopedia itu, adalah parasit psiko-akustik yang kini diyakini telah punah. Ia tidak memakan jaringan atau darah. Makanannya adalah kedamaian pikiran. Ia bertahan hidup dengan memancarkan gelombang suara frekuensi tunggal ("ting") yang secara spesifik dirancang untuk merangsang bagian amigdala di otak inangnya yang bertanggung jawab atas perasaan jengkel dan iritasi minor. Semakin jengkel inangnya, semakin kuat resonansi kutu tersebut.
Baskoro menatap ilustrasi itu, lalu ke sekeliling ruangan. Tidak ada kutu di sini. Lalu ia sadar. Masalahnya bukan kutu sungguhan. Entah bagaimana, ilustrasi di dalam buku itu sendiri—kombinasi dari tinta berbasis cumi-cumi purba dan kertas papirus yang diawetkan dengan garam Laut Mati—telah menciptakan "gema" sonik dari makhluk itu. Ensiklopedianya, sumber kebahagiaannya, adalah sumber penderitaannya.
Solusi Cair untuk Masalah Sonik
Sebuah dilema yang mengerikan. Ia tidak mungkin menghancurkan buku paling berharga di dunia. Tapi ia juga tidak bisa hidup dengan suara "ting" abadi yang menggerogoti sanubarinya. Ia menatap ilustrasi kutu sialan itu, yang seolah mengejeknya dalam keheningan yang kini tercemar.
Lalu, matanya tertumbuk pada rak di seberang ruangan. Pada barisan tabung reaksinya. Pada satu tabung yang paling istimewa, yang berisi tiga mililiter cairan hijau bening hasil kerja kerasnya selama lima tahun. Intisari Keheningan Murni.
Sebuah ide gila, sebuah hipotesis yang lahir dari keputusasaan dan logika absurd, terbentuk di benaknya. Jika zat ini adalah esensi dari keheningan, mungkinkah ia bisa membatalkan suara? Bukan dengan menutupi, tapi dengan menghilangkannya dari sumbernya?
Dengan tangan yang mantap, Baskoro mengambil tabung reaksi itu. Ia membuka sumbatnya dengan hati-hati, aroma samar ozon dan daun teh basah menguar sesaat. Menggunakan pipet kaca, ia mengambil setetes cairan berharga itu. Jantungnya berdebar lebih kencang daripada palu godam di bengkel kapal. Ini adalah pertaruhan terbesar dalam hidupnya.
Ia membungkuk di atas halaman ensiklopedia yang terbuka. Dengan presisi seorang ahli bedah saraf, ia meneteskan satu tetes Intisari Keheningan Murni tepat di tengah-tengah ilustrasi Kutu Resonansi Amigdala.
Cairan itu tidak membasahi kertas. Sebaliknya, ia menyebar seperti lubang hitam mini, menyerap warna dan detail dari ilustrasi di bawahnya. Gambar kutu itu perlahan memudar menjadi abu-abu kosong. Dan bersamaan dengan hilangnya gambar itu, suara "ting" yang menyiksanya selama berhari-hari lenyap seketika.
Hening.
Keheningan yang absolut, murni, dan sempurna kembali memenuhi kubah titaniumnya. Baskoro Pangaribuan menegakkan tubuhnya, menutup buku itu dengan lembut, dan kembali ke kursinya. Ia menuang secangkir teh Oolong biasa—bukan untuk disuling, tapi untuk dinikmati. Sambil menyesap tehnya, ia menatap anglerfish peliharaannya dan tersenyum tipis. Ternyata, untuk mencapai kedamaian sejati, terkadang yang dibutuhkan hanyalah setetes kecil sains yang sangat aneh.
Illustration: "A distinguished Indonesian man in a classic smoking jacket inside a cozy, book-lined, pressure-proof study at the bottom of the ocean. Strange deep-sea fish with bioluminescent lures swim past the reinforced porthole window. The man is using an eyedropper to carefully place a single, glowing drop of liquid from a test tube onto an open page of a massive, ancient encyclopedia, which shows a detailed drawing of a bizarre, microscopic insect. The man has a look of intense, scholarly concentration on his face."