Tragedi Rasa di Kompleks Pensiunan Sejahtera
Pak Tirtayasa adalah seorang pria yang hidupnya diatur oleh satu prinsip agung: segala sesuatu di masa lalu pasti lebih baik, terutama camilan. Pensiunan arsiparis junior ini mendedikasikan masa tuanya untuk sebuah misi suci, yaitu melestarikan cita rasa otentik Kerupuk Bawang Cap Dinosaurus yang menurutnya telah mengalami degradasi kualitas yang sangat meresahkan sejak tahun 2018. Bagi tetangganya, ia adalah seorang kakek eksentrik. Bagi dirinya sendiri, ia adalah seorang ksatria gastronomi terakhir.
Sebuah Krisis Bernama Kerupuk
Masalahnya bermula pada suatu sore yang cerah. Sambil menyeruput teh melati yang diseduh dengan air dari mata air lereng Gunung Salak (karena air PAM menurutnya memiliki "karakter yang terlalu datar"), Pak Tirtayasa menggigit kerupuk Cap Dinosaurus angkatan terbarunya. Seketika, keningnya berkerut.
"Tidak... tidak seperti ini," gumamnya, matanya memicing seolah baru saja dikhianati oleh sahabat terdekatnya. "Renyahnya masih 8.7 dari 10, tapi aftertaste-nya... ada nuansa... kepasrahan yang subtil. Seharusnya ada sentuhan optimisme samar di gigitan ketiga."
Ini bukan sekadar keluhan. Selama lima tahun terakhir, Pak Tirtayasa telah membuat bagan Excel yang sangat rumit, memetakan "kurva kebahagiaan" dari setiap bungkus kerupuk yang ia konsumsi. Grafiknya menunjukkan penurunan logaritmik yang konsisten. Ia sudah mencoba segalanya: mengirim surat kaleng ke pabrik, menganalisis komposisi garam dapur dengan kaca pembesar, bahkan mencoba menggoreng kerupuk mentahnya pada fase bulan yang berbeda. Hasilnya nihil.
Putus asa, Pak Tirtayasa memutuskan untuk menggunakan senjata pamungkasnya, sebuah benda yang ia rakit sendiri di garasi dari panduan "Komputasi Super untuk Pemula" yang ia pesan dari internet, serta beberapa komponen bekas dari penanak nasi dan lampu disko lama. Ia menyebutnya "Mesin Pencerahan Semesta", atau disingkat "Si Cerah". Tetangganya menyebutnya "gondola disko yang berisik". Secara teknis, benda itu adalah sebuah komputer kuantum level rumahan yang sangat tidak stabil.
Interogasi Kuantum
Malam itu, garasi Pak Tirtayasa bermandikan cahaya biru dan ungu dari Si Cerah. Ia mengenakan kacamata las dan sarung tangan oven sebagai tindakan pencegahan. Di layar monitor tabung bekas, kursor hijau berkedip-kedip menanti perintah.
"Baiklah, Si Cerah," katanya dengan nada seorang detektif yang akan menginterogasi tersangka utama. "Aku akan memberimu semua data yang kumiliki."
Ia mulai memasukkan variabel-variabelnya. Bukan hanya komposisi bahan yang tertera di bungkus, tetapi juga data yang lebih absurd: tingkat kelembapan udara rata-rata di hari penggorengan, diagram astrologi CEO perusahaan kerupuk, data spektral dari teh melatinya, dan transkrip lengkap tiga episode sinetron "Azab Penjual Kerupuk Alot" yang ia yakini mengandung petunjuk tersembunyi.
Si Cerah berdengung. Lampu disko di intinya berputar lebih cepat, memproyeksikan pola-pola aneh ke dinding garasi yang penuh tumpukan koran lama. Komputer itu tidak sedang menghitung, ia sedang berkontemplasi. Ia menyisir triliunan kemungkinan dalam superposisi kuantum, mencari anomali terkecil yang menghubungkan semua titik data absurd dari Pak Tirtayasa. Dengungannya berubah dari nada rendah menjadi siulan melengking, seolah sedang mengalami pencerahan yang menyakitkan.
"Aku butuh jawaban, Si Cerah!" seru Pak Tirtayasa, sambil menepuk-nepuk salah satu tabung vakum yang bergetar hebat. "Demi keutuhan cita rasa warisan leluhur!"
Jawaban yang Datang dari 66 Juta Tahun Lalu
Setelah tiga jam yang terasa seperti keabadian, Si Cerah berhenti berdengung. Keheningan yang tiba-tiba terasa lebih memekakkan telinga. Di layar monitor, sebuah kalimat muncul dalam huruf hijau berpendar:
ANALISIS SELESAI. MASALAH BUKAN PADA RESEP. MASALAH ADA PADA PLANET BUMI.
Pak Tirtayasa mengerutkan kening. "Jangan filosofis, kau ini mesin, bukan motivator."
Layar berkedip dan teks baru muncul, kali ini lebih panjang dan mendetail. Si Cerah menjelaskan bahwa setelah menganalisis semua data, ia menemukan sebuah korelasi pada level atomik yang tidak terduga. Anomali rasa "kepasrahan subtil" itu berasal dari konsentrasi renik sebuah isotop besi spesifik dalam tepung tapioka yang digunakan. Isotop ini, yang oleh Si Cerah dinamai Ferro-Melankolia-66, tidak berasal dari Bumi.
Komputer itu kemudian menampilkan sebuah simulasi holografik sederhana di udara. Sebuah asteroid raksasa menabrak planet, menciptakan ledakan dahsyat.
SUMBER ANOMALI: ASTEROID CHICXULUB. 66 JUTA TAHUN LALU.
Ternyata, asteroid yang memusnahkan dinosaurus itu kaya akan isotop besi unik ini. Selama jutaan tahun, partikel-partikel besi kosmik ini telah meresap ke dalam tanah, air, dan seluruh rantai makanan di planet ini. Konsentrasinya sangat rendah sehingga tidak terdeteksi oleh ilmu pengetahuan konvensional, tetapi cukup untuk memberikan "jejak rasa melankolis kosmik" pada segala hal yang kita konsumsi.
"Tunggu," potong Pak Tirtayasa. "Jadi... dinosaurus punah karena asteroid... dan asteroid itu membawa zat besi aneh... yang sekarang merusak rasa kerupukku?"
AFIRMATIF, jawab Si Cerah. PABRIK KERUPUK CAP DINOSAURUS BARU-BARU INI MENGGANTI PEMASOK AIR MEREKA KE SUMBER YANG SEDIKIT LEBIH TINGGI KONSENTRASI FERRO-MELANKOLIA-66. RESEP ASLI YANG ANDA KENANG KEMUNGKINAN MENGGUNAKAN AIR DARI AKUIFER PURBA YANG LEBIH TERISOLASI.
Epilog di Persimpangan Jalan Kosmik
Pak Tirtayasa duduk terdiam di kursi plastiknya. Wajahnya pucat. Seluruh perjuangannya, bagan Excel-nya, surat kalengnya—semuanya sia-sia melawan takdir geologis berumur 66 juta tahun. Kepunahan dinosaurus, sebuah peristiwa kataklismik yang mengubah sejarah kehidupan di Bumi, ternyata memiliki dampak lanjutan yang paling personal dan menyebalkan baginya: merusak camilan sore harinya.
Ia memandang sisa kerupuk di piring dengan tatapan baru. Kini ia bisa merasakannya dengan jelas. Bukan lagi sekadar rasa hambar, melainkan gema samar dari sebuah tragedi kosmik. Setiap gigitan adalah pengingat akan nasib para T-Rex dan Triceratops.
"Jadi," gumamnya pada diri sendiri, "satu-satunya cara untuk mendapatkan kerupuk yang enak lagi adalah dengan menemukan sumber air yang bebas dari sisa-sisa kiamat purba?"
Di layar, Si Cerah menampilkan satu baris teks terakhir sebelum masuk ke mode tidur.
SELAMAT DATANG PADA MISI ANDA SELANJUTNYA.
Pak Tirtayasa menghela napas panjang. Sepertinya, masa pensiunnya akan jauh lebih sibuk dari yang ia bayangkan.
Illustration: "An elderly Indonesian man in a garage, wearing welding goggles and oven mitts, stares in disbelief at a complex holographic projection emerging from a bizarre homemade quantum computer made of a disco ball, rice cooker parts, and tangled wires. The hologram shows a T-Rex looking sadly at a giant floating potato chip, with complex chemical formulas for iron isotopes connecting them."